laporan akhir pratikum hortikultura

LAPORAN AKHIR PRATIKUM
BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA PPP 105

Kelompok 1.P2
Nama Angota Kelompok
Fitri Royani               J3W412002
Mira Aryuni              J3W412005
Syarif Hidayatullah   J3W412036
Dian Nisa Fitri           J3W412043
M.Nur Ajiz Ramli     J3W412050


IPB BIRU.jpg
 





PROGRAM KEAHLIAN PRODUKSI DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN TERPADU
PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013




PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kata hortikultura ( horticulture ) berasal dari  bahasa latin, yakni hortus yang berarti kebun dan colere yang berarti menumbuhkan (terutama sekali mikroorganisme) pada suatu medium buatan (Zulkarnain 2010). Secara harfiah, hortikultura berarti ilmu yang mempelajari pembudidayaan tanaman kebun atau tanaman sayuran, buah-buahan, bunga-bungaan dan tanaman hias serta tanaman obat. Orang yang ahli mengenai hortikultura dikenal sebagai hortikulturist.
            Pada umumnya, isi kebun di Indonesia berupa tanaman sayuran, tanaman hias dan wangi- wangian, tanaman bumbu masak, tanaman obat- obatan, dan tanaman penghasil rempah. Sedangkan di negara maju, budidaya tanaman hortikultura sudah merupakan suatu usaha tani yang berpola komersial. Yaitu diusahakan secara monokultur di ladang produksi yang luas. Seiring dengan semakin pentingnya kedudukan hortikultura dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber vitamin dan mineral disamping sebagai bahan baku produk olahan, pengusahaan hortikultura di Indonesia kini mulai dilakukan secara monokultur dan dikelola secara agribisnis.
            Tanaman-tanaman yang digolongkan ke dalam tanaman hortikultura sangat luas dan beragam, namun tanaman hortikultura memiliki banyak kesamaan pokok. Diantaranya mudah rusak; mutu produk ditentukan oleh kandungan air; ketersediaan bersifat musiman; harga produk ditentukan oleh kualitas; dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang sedikit; sebagai sumber vitamin dan mineral serta berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan rohani. Oleh karena itu, tanaman hortikultura bersifat padat modal dan padat karya. Sehingga membutuhkan masukan yang tinggi, namun menghasilkan keluaran yang tinggi pula persatuan luas dan persatuan waktu.
            Budidaya tanaman hortikultura menghendaki perhatian yang serius, khususnya dalam penentuan persyaratan ekologinya, hal ini dikarenakan pertumbuhan dan perkembangan tanaman hortikultura sangat tergantung pada keadaan ekologi tempat tanaman tersebut tumbuh. Apabila tanaman tersebut diusahakan pada lingkungan yang memenuhi kebutuhan syarat tumbuhnya, dapat dipastikan tanaman tersebut akan tumbuh dan berproduksi secara maksimal. Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman hortikultura dapat dipengaruhi oleh faktor iklim dan faktor medium tumbuh.
Melihat dari prospek produk hortikultura tersebut, kami tertarik untuk membudidayakan komoditas tanaman hortikultura baik dari tanaman sayuran, buah-buahan, tanaman hias terkecuali tanaman obat. Untuk itu kami melakukan praktikum budidaya tanaman hortikiltura. Kegiatan yang kami lakukan adalah budidaya sayuran, aklimatisasi anggrek dan repoting anthurium.

Tujuan
            Dalam praktikum mata kuliah budidaya tanaman hortikultura, memiliki beberapa tujuan yaitu:
1.      Mengetahui pengertian dan ciri- ciri tanaman hortikultura;
2.      Mengetahui cara pembudidayaan beberapa komoditas yang ada di tanaman hortikultura;
3.      Mengetahui cara perkembangbiakan secara vegetatif, yaitu grafting, budding dan air layering;
4.      Mengetahui cara perkembangbiakan secara generatif, yaitu dengan menggunakan biji;
5.      Mengetahui cara aklimatisasi tanaman anggrek dan repoting anthurium; dan
6.      Mengetahui teknik penanaman tanaman hortikultura baik secara langsung yaitu tugal maupun secara tidak langsung yaitu tray semai beserta alasannya.




TINJAUAN PUSTAKA

Budidaya yang Dilakukan

Perbanyakan secara vegetatif

Tanaman dapat diperbanyak dengan cara vegetatif dan generatif, yang membedakan keduanya adalah bahan yang digunakan dalam perbanyakannya. Perbanyakan tumbuhan dengan cara generatif menggunakan biji sebagai bahan media tanam. Sedangkan perbanyakan tumbuhan dengan cara vegetatif menggunakan bahan tanam selain biji, dapat berupa cabang, batang, akar dan daun. Pemilihan dua cara tersebut tergantung pada beberapa hal, diantaranya: tersedianya bahan tanam, sifat tanaman, ketersediaan tenaga terampil, alat, atau srana serta tujuannya (Salisbury & Cleon 1995).
Dengan cara diokulasi dapat diperoleh tanaman yang dengan produktivitas yang tinggi. Pertumbuhan tanaman yang seragam. Penyiapan benih relatif singkat (I Made 2006).
Terkadang suatu tanaman hasil okulasi ada yang kurang normal. Hal ini  terjadi karena tidak adanya keserasian atau kecocokan antara batang bawah dengan batang atas (entres) perlu menggunakan tenaga ahli untuk pengokulasian ini. Bila salah satu syarat dalam kegiatan pengokulasian tidak terpenuhi kemungkinan gagal atau mata entres tidak tumbuh sangat besar (Irianto 2000).
Syarat tanaman dapat diokulasi yaitu : tanaman tidak sedang Flush (sedang tumbuh daun baru) antara batang atas dan batang bawah harus memiliki umur yang sama. Tanaman harus masih dalam satu family atau satu genus. Umur tanaman antara batang atas dan batang bawah sama. Pada klon yang dijadikan batang bawah memiliki perakaran yang kuat atau kokoh, tidak mudah terserang penyakit terutama penyakit akar, mimiliki biji atau buah yang banyak yang nantinya disemai untuk dijadikan batang bawah, umur tanaman induk pohon batang bawah yang biji/buahnya akan dijadikan benih untuk batang bawah minimal 15 tahun, memiliki pertumbuhan yang cepat. Pada klon yang akan dijadikan batang atas atau entres tanaman harus memiliki produksi yang unggul, dan pertumbuhan yang cepat, dan tahan terhadap penyakit  (http://bebas.vlsm.org).
Salah satu metode yang sering dilakukan dalam usaha pembudidayaan tanaman dengan cara vegetatif buatan adalah dengan cara cangkok. Mencangkok merupakan usaha yang dilakukan untuk memeperbanyak diri dengan menggunakan batang apikal yang masih tumbuh. Mencangkok hanya dapat dilakukan pada tanaman dikotil yang mempunyai kambium Pada tanaman monokotil yang tidak mempunyai kambium dan cenderung tumbuh merambat dan berbatang kecil. Selain itu, pada tanaman monokotil yang tifak memiliki kambium apabila dilakukan penyayatan pada batang tanaman akan langsung melukai jaringan pengangkut (floem dan xilem) (Ashari 1995).
Tanaman berkayu hampir semuanya dapat dicangkok dan pengerjaan cangkok sebenarnya sangat mudah, hanya saja perlu memperhatikan beberapa hal saja yaitu waktu mencangkok, pemilihan batang dan pemeliharaan cangkokan. Pilihlah batang yang tidak terlalu tua, kuat, subur dan tidak mengandung penyakit. Lebih bagus lagi bila banyak buahnya. Cangkok baik dilakukan pada saat musim penghujan. Selain cangkok, stek juga termasuk perkembangbiakan buatan yang mudah untuk dilakukan (Fiqa 2007).
Puring  (Codiaeum variegatum)  adalah tanaman hias pekarangan populer berbentuk perdu dengan bentuk dan warna daun yang sangat bervariasi.  Beragam kultivar telah dikembangkan dengan variasi warna dari hijau, kuning, jingga, merah, ungu, serta campurannya. Bentuk daun pun bermacam-macam: memanjang, oval, tepi bergelombang, helainya "terputus-putus", dan sebagainya. Secara botani, puring adalah kerabat jauh singkong serta kastuba. Ciri yang sama adalah batangnya menghasilkan lateks berwarna putih pekat dan lengket, yang merupakan ciri khas suku Euphorbiaceae. Puring berasal dari kepulauan Nusantara namun kini telah tersebar di seluruh daerah tropika dan subtropika, serta menjadi salah satu simbol turisme. (id.wikipedia.org/wiki/Puring).
Tanaman ini tumbuh dan tersebar dari daerah beriklim panas hingga daerah subtropika. Hingga saat ini belum ada data pasti yang menunjukkan asal tanaman ini. Menurut beberapa sumber pustaka, puring sudah lama ada di Indonesia dan pertama kali ditemukan di kepulauan Maluku yang dimanfaatkan sebagai tanaman pagar atau pekuburan. Di setiap daerah puring memiliki nama berbeda-beda. Di Sumatra dikenal dengan nama tarimas, siloastam (Batak), nasalan (Nias), Pudieng (Minangkabau, Lampung). Di jawa dikenal dengan nama puring (Sunda, Jawa), Karoton (Madura). Di Nusa Tenggara dikenal dengan nama demung, puring (Bali), daun garida (Timor). Di kalimantan di kenal dengan nama uhung dan dolok. Di Sulawesi : dendiki (Sangir), Kejondon, Kalabambang, dudi, leleme, kelet, kedondong disik (Minahasa), nuniki balano (Buol), balenga semangga (Makassar), dahengora, mendem (Manado). Di Maluku dikenal dengan nama susurite, salu-salu, fute, ai haru, sinsite, siri-siri (Seram), galiho, dahengaro, salubuto (Halmahera), dahengora, daliho (Ternate, Tidore). (http://www.kaskus.us)


Perkembangbiakan secara generatif

 Duku (Lansium domesticum L.) merupakan tanaman berupa pohon yang berasal dari Indonesia.Tanaman ini dapat tumbuh baik di dataran rendah sampai pada ketinggian 500 m dpl. Dengan tipe iklim basah sampai agak basah dengan curah hujan antara 1500-2500mm pertahun dan merata sepanjang tahun. pH tanaman yang baik adalah 6-7 dan tanaman ini relatif lebih toleran terhadap keadaan tanah. ( Setiawan.I.A 2001 )
 Alpukat (Persea Americana, Mill) merupakan jenis tanaman yang termasuk famili Lauraceae, genus Parsea dan spesies americana. Tanaman alpukat merupakan tanaman buah berupa pohon dengan nama alpuket (Jawa Barat), alpokat (Jawa Timur/Jawa Tengah), boah pokat, jamboo pokat (Batak), advokat, jamboo mentega, jamboo pooan, pookat (Lampung) dan lain-lain. Tanaman alpukat berasal dari dataran rendah/tinggi Amerika Tengah dan diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke-18. Secara resmi antara tahun 1920-1930 Indonesia telah mengintroduksi 20 varietas alpukat dari Amerika Tengah dan Amerika Serikat untuk memperoleh varietas-varietas unggul (Rismunandar 1981).

 Tanaman manggis (Garcinia mangostana L.) berasal dari Semenanjung Malaysia, merupakan sumber protein, vitamin dan mineral, juga mengandung bahan antioksidan yang mampu menunda penuaan sel dan jaringan serta mencegah kanker (Ashari 2006; Rai dan Poerwanto 2008). Pohon manggis berdaun rapat (rimbun), tingginya dapat mancapai 6 - 25 m, batangnya lurus, cabangnya simetris membentuk piramid ke arah ujung tanaman, dan bentuk kanopinya sangat baik untuk hiasan di pekarangan. Duduk daun berlawanan, tangkai daun pendek. Bunganya soliter atau berpasangan di ujung tunas, tangkai bunga pendek dan tebal (Ashari 2006).
 Tanaman jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan tanaman buah daerah tropis dan dapat juga tumbuh di daerah sub-tropis dengan intensitas curah hujan 1.000-2.000 mm/tahun dan pada suhu 23-280C di siang hari. Tanaman jambu biji sebenarnya dapat tumbuh pada semua jenis tanah dengan derajat keasaman (pH) 4,5-8,2 dan pada ketinggian 5-1.200 m dpl. Pembibitan pohon jambu biji dilakukan melalui sistem pencakokan dan okulasi, dan dapat juga dengan menanam biji secara lansung. Tanaman dari biji biasanya berbuah 2-3 kali setahun. Tanaman dari okulasi dan cangkok dapat berbuah tiap bulan (Anonimus 2010).







BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat
Praktikum budidaya tanaman hortikultura dilaksanakan pada tanggal 12 Februari 2013 hingga tanggal 14 Mei 2013. Praktikum dilaksanakan setiap hari Selasa, yang dimulai pukul 07.00 WIB hingga selesai. Praktikum ini dilaksanakan di lahan Gunung Gede dekat processing  benih.
Bahan dan Alat
Praktikum budidaya tanaman hortikultura ini menggunakan beberapa alat yaitu: cangkul, tugal, kored, meteran, garpu, tray semai, bambu, ember, timbangan digital, gembor, pisau, pinset, gabus, planlet anggrek, hand sprayer dan gelas plastik berbagai ukuran. Sedangkan bahan yang diperlukan adalah: furadan, benih bayam, benih pakchoy, benih kacang panjang, benih selada, benih kangkung, benih terong ungu, benih caisim, kompos, tali rafia, pupuk majemuk NPK mutiara 15:15:15, pupuk daun Gandasil D, air, buah duku, buah jambu, buah alpukat, buah manggis, polybag, tanaman kangkung, tanaman caisim, tanaman bayam, tanaman tomat, tanaman terung ungu, label, tanaman sawo, tanaman lengkeng, tanaman jambu, tanaman nangka,  plastik mambo, tanaman pakchoy, tanaman tomat, tanaman terung ungu, tanaman anggrek, pakis kering, moss, dithane, gelas plastik air mineral bekas, tanah, hormon auksin dan pembungkus.

Metode Pelaksanaan
1.     Vegetatif
Perkembangbiakan tanaman secara vegetatif diantaranya adalah grafting, budding dan air layering. Dalam kegiatan grafting atau sambung pucuk langkah pertama yang harus dilakukan adalah tanaman yang hendak digrafting dipilih dengan memiliki sifat sesuai dengan syarat tanaman yang dijadikan batang bawah. Selanjutnya tanaman yang dijadikan batang atas dipilih yang sesuai dengan batang bawah. Tanaman yang dijadikan batang bawah dan atas dibuang daunnya. Pada tanaman untuk batang bawah dipotong pada bagian yang tepat untuk dijadikan bagian grafting dengan cara tanaman tersebut dibengkokkan dan bagian tanaman yang tidak membengkok paling atas dijadikan sebagai bagian yang akan digrafting. Kemudian bagian tanaman yang dipotong disayat sedikit sehingga terbentuk seperti huruf V. Kemudian pada ujung batang atas dilancipkan dan diletakkan pada bagian batang bawah yang seperti huruf V tadi. Bagian yang digrafting diikat dengan cara dililit tetapi jangan terlalu kuat dan jangan terlalu longgar. Kemudian  tanaman yang digrafting ditutup dengan plastik untuk menjaga kelembapan didalamnya.  Selanjutnya tanaman yang digrafting diberi label. Hal hal yang perlu dicantumkan pada label diantaranya kelompok, tanggal pelaksanaan dan nama komoditas.
Pada kegiatan budding atau tempel mata tunas, langkah pertama yang dilakukan adalah bagian tanaman yang akan dibudding dipilih sesuai dengan ketentuan. Selanjutnya mata tunas dipilih dengan cermat pada sumber mata tunas. Kemudian bagian mata tunas disayat hingga mata tunas terangkat. Pada bagian batang bawah disayat sedikit hingga membentuk seperti jendela namun jangan sampai terkena kambium. Kemudian mata tunas dipisah dari kulit dan tempelkan mata tunas pada jendela batang bawah. Bagian jendela batang bawah diikat cara dililit dengan menggunakan plastik yang telah ditarik. Tanaman yang dibudding ditutupi dengan plastik agar kelembapannya terjaga dan diberi label.   
Pada perbanyakan dengan cangkok, hal pertama yang harus dilakukan adalah tentukan jenis tanaman yang akan dicangkok dimana tanaman tersebut diberi perlakuan 2(dua) cangkokan yaitu dengan hormon auksin dan tanpa auksin. Kemudian kulit tanaman disayat sekitar 7 cm. Setelah itu, permukaan kambium dikerok/dikikis untuk menghilangkan lendir. Tanah diisi kedalam media plastik dan dilembabkan dengan air. Selanjutnya plastik tadi dibelah bagian tengahnya. Sayatan yang telah dibuat tadi lalu dibungkus dengan plastik yang telah berisi tanah yang dilembabkan dan diikat dengan tali rafia. Untuk perlakuan hormon auksin, sebelum diikat dengan tali rafia auksin disiram dahulu kemedia tanah. Tahap akhir yakni pencangkokan tadi diberi label sesuai perlakuan.
2.      Generatif
Pada perbanyakan generatif, bagian tanaman yang digunakan adalah biji. Tanaman yang diperbanyak dengan biji tersebut antara lain alpukat, manggis, duku dan jambu biji. Sebelum biji-biji tersebut ditanam kemedia polybag, biji-biji tersebut harus diekstraksi terlebih dahulu. Ekstraksi dapat dilakukan dengan abu gosok dan pasir. Setelah biji diekstraksi, biji dicuci bersih dengan air. Disamping itu, media tanam harus disiapkan berupa polybag yang berisi campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1. Lubang tanam dibuat sekitar 1 cm lalu diisi dengan biji-biji tersebut beserta furadan. Setelah semua biji ditanam, lubang tersebut ditutup dan disiram air.














HASIL DAN PEMBAHASAN

Perbanyakan dengan Vegetatif
Pada pratikum ini, tanaman yang digrafting adalah sawo dan lengkeng. Sebaliknya tanaman yang dibudding adalah nangka dan jambu biji. Berikut tabel hasil mengenai grafting dan budding
No
Jenis Tanaman
Jumlah
DB (%)
1
Jambu
2
0
2
Nangka
2
0
3
Sawo
4
0
4
Lengkeng
4
0

Dari tabel dan grafik diatas dapat diketahui bahwa semua tanaman baik itu jambu, nangka, sawo dan lengkeng yang telah digrafting maupun dibudding tidak berhasil sama sekali. Kegagalan ini dapat disebabkan oleh teknik perbanyakan yang salah, kurangnya perawatan terhadap tanaman dan ikatan pada tanaman yang kurang kencang. Grafting dan budding adalah  istilah yang digunakan untuk  menghubungkan batang bawah dan batang atas dari tanaman yang berbeda, sehingga membentuk persenyawaan. Kombinasi ini akan terus tumbuh membentuk tanaman baru (Purnamasari 2012).
Perbedaan grafting dan budding terletak pada proses pelaksanaan penyambungan. Meskipun keduanya merupakan teknik perbanyakan vegetatif, namun pada sistem grafting, penyambungan dilakukan dengan menghubungkan batang atas dan batang bawah. Sedangkan pada budding, digunakan penempelan mata tunas. Keuntungan dari sistem ini adalah dihasilkannya tanaman individu dengan sifat baru dimana produksinya lebih cepat dan sesuai dengan keinginan.

            Cangkok atau air layering adalah   cara perkembangbiakan pada tumbuhan dengan menanam batang atau dahan yang diusahakan berakar terlebih dahulu sebelum di potong dan di tanam di tempat lain. Tidak semua tumbuhan bisa di cangkok. Tumbuhan yang bisa di cangkok hanyalah tumbuhan dikotil dan tumbuhan biji terbuka. Cara perkembangbiakan dengan mencangkok akan sangat istimewa terutama untuk buah-buahan. Karena rasa dan bentuk buah yang dihasilkan biasanya akan sama persis dengan induknya. Berbeda jika perkembang biakan di lakukan dengan menanam biji, terkadang tanaman yang dihasilkan tidak sama dengan kriteria yang dimiliki oleh induknya.
            Dalam pratikum kali ini, tanaman yang dicangkok antara lain puring, nangka, lamtoro dan sirsak. Kelompok kami mendapatkan pencangkokan tanaman puring. Ada 2 perlakuan yakni dengan penambahan hormon auksin dan tanpa auksin. Perlakuan dengan hormon auksin diharapkan menunjukkan keberhasilan yang tinggi karena auksin berperan dalam mempercepat pertumbuhan akar. Penggunaan hormon auksin lebih memberikan keuntungan daripada  pencangkokan tanpa hormon. Oleh karena itu, dalam melakukan pencangkokan diharapkan menggunakan tambahan hormon auksin agar akar lebih cepat tumbuh sehingga tanaman tidak mudah rebah yang pada akhirnya akan cepat berbuah.
Perbanyakan dengan Generatif
            Perbanyakan generatif dilakukan dengan biji. Adapun tanaman yang diperbanyak dengan biji yaitu alpukat, manggis, duku dan jambu biji. Berikut tabel hasil daya berkecambahnya
No
Jenis Tanaman
DB
Minggu ke-
1
Manggis
⅛ x 100 = 12,5%
1
2
Duku
0%
1
3
Jambu Biji
19/24 x 100 = 79%
2
4
Alpukat
0%
2

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa daya berkecambah manggis adalah 12,5% pada minggu pertama dan daya berkecambah jambu biji 79% pada minggu kedua. Akan tetapi, untuk alpukat dan duku tidak tumbuh baik minggu pertama maupun minggu kedua. Kegagalan ini disebabkan pemeliharaan yang tidak intensif dari kelompok kami. Kami jarang menyiram tanaman tersebut sehingga tanaman tersebut mengalami kekeringan dan mati.




















KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1.      Hortikultura adalah ilmu yang mempelajari tentang budidaya sayuran, buah- buahan, hias dan obat. Pada saat ini, hortikultura menjadi suatu usaha tani yang bersifat komersial sehingga perlu adanya usaha pengembangan yang modern.
2.      Perkembang biakan secara vegetatif adalah perkembang biakan dengan dengan menggunakan bagian tanaman yang bukan reproduksi. Yangvtermasuk poerkembang biakan secara vegetatif adalah grafting, budding dan cangkok
3.      Perkembang biakan secara generatif adalah perkembang biakan dengan menggunakan biji yang mewrupakan hasil dari fertilisasi.
4.      Aklimatisasi adalah prosesatau masa adaptasi tanaman hasil kultur jaringan dari lingkungan yang terkendali ke lingkungan yang tidak terkendali.























DAFTAR PUSTAKA
Ashari, S. 1995. Holtikultura. Aspek Budidaya. UI-Press. 485 hal.
Ashari. 1995. Biologi 3 SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Yuhistira
Fika , dkk. 2007. Biologi 3 SMA dan MA Untuk Kelas XII . Jakarta: esis
Gunawan. I. 2004. Perkembangbiakan Vegetatif. Klaten : Aviva
Harjadi, Rochiman,dkk.1993. Evaluasi mandiri biologi SMU. Jilid 3:Erlangga
Kalie. 2002. Effect of Shade on the Growth and Mineral Nutrition of C4 Perennial Grass Under Field Conditions. Plant and Soil 188:227-237
Pratiwi, dkk. 2004. Physiology of Crop Plants. Diterjemahkan oleh H.Susilo. Jakarta. Universitas Indonesia Press.
Prawiro hartono, Slamet. 2005. Sains Biologi Untuk SMA kelas 3. Jakarta: Erlangga
Rochiman, K. dan S. S. Harjadi. 1973. Pengembangbiakan Vegetatif. Departemen Agronomi Fakultas Pertanian IPB
Setiawan, A. 1990. Pengantar Produksi Benih. Bandung :Fakultas Pertanian ITB
Setiawan Dan Mugnisjah. 1995. Biochemical Changes in Low Irradiance Tolerant and Succeptible Rice Cultivars. Biol. Plantarum. 36(2): 237-242.
Setiaderadja. 2000. Adaptasi Kedelai terhadap Naungan : Studi Morfologi dan Anatomi. Tesis S2. Program Pascasarjana. IPB Bogor.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2005. Taksonomi Umum. Yogjakarta : Gajah Mada University Press
 Tobing, Roni.1998. Menabur Benih Menuai Hasil. Jakarta : Yayasan Patmos
Widyayanto,R. 2007.Membuat Setek, Cangkok, dan Okulasi.
Jakarta: Penebar swadaya
Zulkarnain. 2010. Dasar-Dasar Hortikultura. Jakarta (ID). Bumi Aksara






Comments

Popular Posts